Showing posts with label PENDEKATAN SAINTIFIK KURIKULUM 2013. Show all posts
Showing posts with label PENDEKATAN SAINTIFIK KURIKULUM 2013. Show all posts

Tuesday, June 24, 2014

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN SCIENTIFIC / SAINTIFIK DENGAN PENDEKATAN ILMIAH PADA KURIKULUM 2013 : MENGAMATI, MENANYA, MENALAR, MENCOBA, DAN MEMBENTUK JEJARING

A. MENGAMATI (OBSERVING)

Metode mengamati / observasi mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Dalam pelaksanaannya, proses mengamati memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.


Namun metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik karena peserta didik yang terlibat dalam proses mengamati akan dapat menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Langkah-Langkah mengamati, jenis-jenis observasi, kegiatan observasi ,bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi, serta prinsip observasi selengkapnya, silahkan dibaca pada links berikut.

B. MENANYA (QUESTIONING)

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya.

Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri norma hukum? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri norma hukum!

Untuk mengetahui secara lengkap penjelasan lebih lanjut tentang menanya, fungsi dari bertanya, tingkatan maupun kriteria pertanyaan yang baik, serta tingkatan dari bertanya, silahkan kunjungi artikel berikut.

3. MENALAR (ASSOCIATING)

Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata emiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. 

Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.

Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan dengan cara :

1.   Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.
2.   Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
3.   Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau   hierarkis, dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
4.   Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
5.   Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki.
6.   Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.
7.   Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
8.   Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.

4. MENCOBA (EKSPERIMEN / EXPERIMENTING)

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.

Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah:

1.   menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;
2.   mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan;
3.   mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya;
4.   melakukan dan mengamati percobaan;
5.   mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;
6.   menarik simpulan atas hasil percobaan;
7.   membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.

Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka :

1.   Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid
2.   Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan
3.   Perlu memperhitungkan tempat dan waktu
4.   Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid
5.   Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen
6.   Membagi kertas kerja kepada murid
7.   Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan
8.   Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.

5. MEMBENTUK JEJARING PEMBELAJARAN / PEMBELAJARAN KOLABORATIF (NETWORKING)

Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Untuk mengetahui definisi & contoh model pembelajaran kolaboratif Kurikulum 2013, serta langkah-langkah penerapan model pembelajaran Card Sort, Tim Siswa Kelompok Prestasi, Jigsaw, Group Investigation, CIRC, dan Inkuiri Dasar selengkapnya, silahkan baca pada artikel berikut.

Demikian share singkat mengenai langkah-langkah pembelajaran pada implementasi kurikulum 2013. Semoga bermanfaat dan terimakasih... Salam Edukasi...

Monday, June 23, 2014

DEFINISI & CONTOH MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF KURIKULUM 2013, SERTA LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT, TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI, JIGSAW, GROUP INVESTIGATION, CIRC, DAN INKUIRI DASAR

Pembelajaran Kolaboratif atau Collaborative Learning adalah situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama. Tidak seperti belajar sendirian, orang yang terlibat dalam collaborative learningmemanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dll). Lebih khusus, collaborative learning didasarkan pada model di mana pengetahuan dapat dibuat dalam suatu populasi di mana anggotanya secara aktif berinteraksi dengan berbagi pengalaman dan mengambil peran asimetri (berbeda).


Dengan kata lain, collaborative learning mengacu pada lingkungan dan metodologi kegiatan peserta didik melakukan tugas umum di mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain. Hl ini juga termasuk percakapan dengan tatap muka dan diskusi dengan komputer (forum online, chat rooms, dll.). Metode untuk memeriksa proses collaborative learning meliputi analisis percakapan dan analisis wacana statistik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Collaborative_learning-work).

Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.

1.   Guru dan peserta didik saling berbagi informasi,
2.   Berbagi tugas dan kewenangan,
3.   Guru sebagai mediator,
4.   Kelompok peserta didik yang heterogen.

CONTOH-CONTOH PEMBELAJARAN KOLABORATIF


A. MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT (SORTIR KATA)

Guru ingin mengajarkan tentang konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).  Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini :

1.   Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
2.   Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
3.   Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekannya.
4.   Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Sortir Kata / Card Sort :

1.   Motivasi
2.   Membagi kertas berisi tulisan secara acak
3.   Menempelkan induk tulisan di papan tulis
4.   Mengelompokkan siswa sesuai kelompok
5.   Menyesuaikan dengan induk kata
6.   Presentasi

Kartu disimpan di atas meja, siswa di suruh ke depan satu persatu, dan mencocokkan anak kata dengan kuncinya.

B.  MODEL PEMBELAJARAN TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS / STAD)

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Tim Siswa Kelompok Prestasi (Student Teams Achievement Divisions / STAD) adalah  :

1.   Menyajikan pelajaran (presentasi).
2.   Belajar dalam tim:
a.   Bagi siswa dalam kelompok (terbagi habis).
b.   Tugaskan untuk menguasai materi yang telah dipresentasikan.
c.   Bagikan LKS aatu materi lain.
d.   Anjurkan pada tiap tim bekerja dalam duaan atau tigaan (anjurkan saling mengecek)
e.   Beri penekanan, mereka tidak boleh mengakhiri sebelum yakin seluruh anggota paham/menjawab benar 100%.
f.    Pastikan siswa memahami bahwa LKS itu untuk belajar – bukan hanya untuk diisi dan dikumpulkan.
g.   Berikan lembar kunci jawaban LKS.
h.   Berikan kesempatan saling menjelaskan jawaban, tidak hanya mencocokkan.
i.    Bila ada pertanyaan, mintalah dulu kepada teman, baru ke guru.
j.    Pada saat siswa bekerja dalam tim, berikan penguatan.
3.  Berikan kuis:
a.   Beri waktu cukup.
b.   Jangan biarkan bekerjasama.
c.   Kumpulkan hasil atau mintalah bertukar jawaban (memeriksa hasil).
4.  Buatlah skor individu dan skor tim.
5.  Pengakuan kepada prestasi tim.

C. MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW (MODEL TIM AHLI)

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Tim Ahli / Jigsaw, yaitu :

1.   Siswa dikelompokkan (4 orang).
2.   Setiap siswa diberi materi yang berbeda.
3.   Setiap siswa membaca tugas bagiannya.
4.   Siswa yang memiliki nomor sama berkumpul dalam satu kelompok (tim ahli).
5.   Siswa kembali ke kelompok semula.
6.   Secara bergantian mempresentasikan hasil jawaban tim ahli kepada teman lainnya, semua anggota kelompok mencatat hasil.
7.   Kesimpulan – penguatan dari guru

Pelaksanaan teknik Jigsaw dalam kegiatan pembelajaran:

1.   Menginformasikan kompetensi dasar secara jelas.
2.   Menginformasikan tema/topik ………………. disertai penjelasan singkat atau meminta  siswa mengamati, membaca, dan lain-lain, yang sama sesuai tema/ topik          ……………………
3.   Menempatkan siswa secara heterogen dalam kelompok kecil (kelompok koopratif):
a.  Kelas dibagi menjadi ……….. kelompok.
b. Tiap kelompok terdiri dari ………. siswa.
4.   Menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa:
a.   Tugas individu sebanyak …….. tugas (sesuai jumlah siswa tiap kelompok).
b.   Tugas kelompok sebanyak ……… tugas (sesuai jumlah kelompok).
5.   Meminta siswa menemui anggota kelompok lain yang mempunyai tugas individu yang sama  untuk:
a.   Belajar bersama.
b.   Menjadi ahli informasi.
c.   Merencanakan cara meberikan informasi.
6.   Meminta siswa untuk kembali ke kelompok kooperatif (………. serangkai):
a.   Berbagai informasi (sesuai tugas individu).
b.   Mengerjakan tugas kelompok.
7.   Meminta kelompok menginformasikan hasil tugas kelompok dilanjutkan tanggapan dari kelompok lain.
8.   Pembenaran/pelurusan hasil kerja kelompok.

D. MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION  (SHARAN, 1992)

Model pembelajaran Group Investigation merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Langkah-langkah penerapannya adalah :

1.   Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
2.   Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3.   Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
4.   Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif  yang bersifat penemuan
5.   Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6.   Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
7.   Evaluasi
8.   Penutup

E. MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING  AND COMPOSITION (CIRC) KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS (STEVEN & SLAVIN, 1995)

Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading  And Composition (CIRC)  :

1.   Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen
2.   Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3.   Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas
4.   Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
5.   Guru membuat kesimpulan bersama
6.   Penutup

F. MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DASAR

Langkah-langkah pembelajaran Inkuiri Dasar, yaitu :

1.   Pengalaman awal : Kegiatan eksplorasi.
2.   Pertanyaan : Mengajukan pertanyaan dan pembelajaran dikembangkan seputar pertanyaan.
3.   Alternatif : Mengusulkan sejumlah alternatif yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan (alternatif jawaban yang lain juga mungkin muncul pada tahap pengumpulan data selanjutnya.
4.   Data : Mengumpulkan data setiap alternatif jawaban yang diajukan.
5.   Sintesis :Menarik kesimpulan dengan memilih alternatif jawaban terbaik atas pertanyaan yang dikaji.
6.   Menilai kesimpulan : Menilai/mengukur apakah kesimpulan itu bisa menjawab pertanyaan  dengan   pas.
7.   Mengemukakan kesimpulan : Menyusun laporan dan presentasi kesimpulan

MENGAMATI (OBSERVATION) – LANGKAH OBSERVASI, JENIS / BENTUK KETERLIBATAN PESERTA DIDIK DALAM OBSERVASI, DAN PRINSIP OBSERVASI PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013

Pengamatan atau observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Di dalam penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.

Metode mengamati / observasi mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Dalam pelaksanaannya, proses mengamati memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.


Namun metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik karena peserta didik yang terlibat dalam proses mengamati akan dapat menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Langkah-Langkah Mengamati / Observasi adalah :

1.   Menentukan objek apa yang akan diobservasi
2.   Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
3.   Menentukan  secara jelas  data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
4.   Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
5.   Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
6.   Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

Jenis Jenis Observasi, di antaranya:

1.   Observasi biasa (common observation).
2.   Observasi terkendali (controlled observation).
3.   Observasi partisipatif (participant observation).
4.   Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
5.   Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.
6.   Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

Kegiatan observasi  dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi :

1.   Observasi biasa (common observation)

Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran,peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati.

2.   Observasi terkendali (controlled observation)

Seperti halnya observasi biasa, pada observasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Mereka juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada observasi terkendali pelaku atau objek  yang diamati ditempatkan pada ruang atau            situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen  atas diri pelaku atau objek yang diobservasi.

3.   Observasi partisipatif (participant observation)

Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk  mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.

Selama proses pembelajaran, peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. Kedua cara pelibatan dimaksud  yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur, seperti dijelaskan berikut ini :

1.   Observasiberstruktur. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, fenomena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru.

2.   Observasi  tidak berstruktur. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Dalam kerangka ini, peserta didik membuat catatan, rekaman, atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek, objektif, atau situasi yang diobservasi.

Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran adalah :

1.   Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran.

2.   Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek, objek, atau situasi yang diobservasi. Makin banyak dan hiterogensubjek, objek, atau situasi yang            diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. Sebelum obsevasi dilaksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.

3.   Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, direkam, dan sejenisnya,  serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi.